Jumat, 30 Maret 2018

Tips Menghindari Penipuan Investasi Bodong

Tips Menghindari Penipuan Investasi Bodong

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kepada masyarakat agar tetap bersikap kritis dan bijaksana dalam menggunakan uang, baik untuk kegiatan investasi maupun kegiatan lain yang bersifat mempercayakan uang pada sistem atau pihak lain. Masyarakat juga diimbau untuk tidak tergiur investasi yang dapat merugikan alias investasi bodong.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam Lumban Tobing, mengatakan untuk berinvestasi masyarakat perlu memperhatikan betul izin legalitas dari suatu lembaga tersebut. Sebab, kebanyakan masyarakat tidak melihat itu, dan justru fokus kepada iming-iming yang ditawarkan dari suatu perusahaan.

"Teliti legalitas lembaga dan produknya. Pahami proses bisnis yang ditawarkan. Pahami manfaat dan risikonya serta pahami hak dan kewajibannya," ujarnya dalam acara sosialisasi satuan tugas waspada investasi ilegal di, Balaikota DKI Jakarta,

Tongam menyebutkan, kebanyakan dari investasi bodong menawarkan keuntungan yang tidak wajar dalam waktu cepat. Belum lagi, bonus yang diawarkan dari perekrutan anggota baru menggiurkan, kemudian ditambah klaim tanpa risiko.

"Sebelum berinvestasi kenali lembaga dan produknya. Kalau ada penawaran investasi yang diterima kenali 2 L. Legal dan Logis. Legal tanya dulu izin kegiatannya. Kemudian logis yakni rasionalnya. Misalkan bunga yang ditawarkan lebih besar 10 persen per hari atau per bulan. Itu tidak mungkin," pungkasnya.

Sebelumnya, Tongam memperkirakan total kerugian akibat investasi bodong sejak 2008 hingga 2018 mencapai puluhan triliun. Jumlah tersebut terdiri dari berbagai kasus yang telah diungkap pihaknya.

"Perkiraan kerugian akibat kegiatan investasi bodong cukup besar kurang lebih Rp 88 triliun kerugian terakhir," katanya.

Sebelumnya, Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tongam Lumban Tobing mengungkapkan, maraknya investasi bodong di tanah air.

Namun, pihaknya dapat hentikan investasi bodong dalam jumlah besar. Tercatat jumlah investasi bodong yang dihentikan mengalami pertumbuhan signifikan dengan total jumlah 188 perusahaan sejak 2017.

"Sangat banyak, jadi tahun 2017 kita menghentikan 80 investasi ilegal di luar fintech. 2018 kita menghentikan 108," kata Tongam saat ditemui di Bareskrim Polri, Tanah Abang, Jakarta Pusat,

Dia menyebutkan, sebagian besar investasi bodong tersebut bergerak di bidang perdagangan forex berjangka dan multi level marketing.

"Dan money game, artinya menawarkan investasi dengan bunga - bunga yang sangat tinggi," dia menambahkan.

Tongam menegaskan, potensi investasi ilegal masih sangat tinggi terlebih dengan kondisi teknologi berkembang pesat. Kemajuan teknologi tersebut dimanfaatkan oleh sebagian oknum untuk mengeruk keuntungan dengan cara yang tidak benar. Salah satunya adalah investasi bodong tersebut.

Oleh karena itu, dia menyatakan otoritas dan pemerintah akan terus menggaungkan literasi keuangan yang baik dan benar kepada masyarakat agar jumlah korban bisa diminimalisir.

"Dengan semangatnya kita untuk engedukasi masyarakat tentunya kita harapkan masyarakat bisa lebih cerdas lah, waspada," ujarnya

Selasa, 06 Maret 2018

Akibat Bermain Sosial Media Secara Berlebihan


Akibat Bermain Sosial Media Secara Berlebihan

JAKARTA - Sejumlah penelitian telah mengungkapkan jika penggunaan media sosial telah memicu depresi khususnya pada remaja dan dewasa muda. Dua aplikasi yang dipilih dalam studi yakni Instagram dan Snapchat. Keduanya dituding memiliki banyak korban yang terganggu kesehatan mentalnya.

Dilansir dari beberapa sumber, beberapa gangguan mental tersebut di antaranya perasaan tidak bahagia, gelisah, dan kesepian. Lebih lanjut, mengacu pada sebuah survei oleh Royal Society for Public Health di Inggris pada Mei 2017, sekira 1.479 orang berusia antara 14 dan 24 tahun yang menghabiskan lebih dari dua jam sehari di situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter atau Instagram lebih cenderung menunjukkan gejala kecemasan dan depresi.

Menurut penelitian, sosial media juga memperburuk perasaan gelisah dan meningkatkan rasa kekurangan karena kehidupan orang lain terlihat lebih glamor.

"Perasaan ini dapat mempromosikan sikap "bandingkan dan putus asa" pada orang muda. Orang-orang dapat melihat foto dan video yang sangat banyak berbelanja, diedit, atau dipentaskan dan membandingkannya dengan kehidupan mereka yang tampaknya biasa saja," kata penelitian itu.

Selanjutnya, Jean M Twenge, seorang Profesor Psikologi di San Diego State University, berpendapat bahwa kurasi konten yang di-posting di media sosial berkontribusi terhadap perasaan tidak mampu.
Media Sosial

“Kehidupan orang lain terlihat lebih glamor daripada hidup Anda karena Anda tahu semua yang terjadi dalam hidup Anda tetapi teman-teman Anda hanya memposting hal-hal positif. Juga sangat mudah untuk melihat semua hal yang kita lewatkan sehingga kita merasa lebih sering ditinggalkan,” katanya.

Para ahli sepakat bahwa media sosial bisa menjadi racun bahkan bagi mereka yang memiliki pikiran sehat, memicu kecemburuan, perilaku mencari perhatian, kecemasan akan status, ketakutan akan kehilangan (FOMO) dan perbandingan keadaan sosial yang tidak sehat.

Perbandingan yang tidak sehat ini sangat beragam, mulai dari penjajaran tentang penampilan fisik hingga perbandingan tentang pasangan, keluarga, keuangan, dan karier. Faith Nafula, seorang psikolog yang berbasis di Nairobi, menasehati pengguna media sosial, terutama kaum muda, yang katanya paling rentan terhadap tekanan media sosial, untuk mengambil apa yang mereka lihat di platform ini dengan sebutir garam.

“Media sosial telah berubah menjadi platform pamer. Mayoritas orang hidup dalam kebohongan," kata Nafula.